Archive

Archive for October, 2017

Kapabilitas Guru dan Ibu, Kunci Eskalasi Literasi Siswa Usia Punca

October 15th, 2017 No comments

            Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik pada 3 Maret 2017 yang baru lalu, persentase penduduk Indonesia yang melek huruf pada usia 15 tahun keatas sudah mendekati angka sempurna. Walaupun secara umum penduduk pedesaan memiliki tingkat melek huruf yang lebih rendah dibanding yang tinggal di perkotaan, namun rasio perbedaannya sudah kurang dari 5% saja. Hasil Susenas terakhir tahun 2015 menunjukkan bahwa 95.22% penduduk Indonesia pada semua golongan usia sudah mampu melek huruf. Angka yang sedikit pesimis muncul pada golongan usia 45 tahun keatas dengan tingkat melek huruf sebesar 88.11%, namun pada penduduk usia produktif 15-44 tahun menunjukkan angka melek huruf sebesar 98.9%. Hal ini menunjukkan bahwa angka buta huruf sudah menurun tajam dibandingkan dua dekade lalu. Angka optimistis yang menggembirakan adalah tingkat melek huruf yang mencapai hampir 99% untuk pelajar tingkat dasar usia 10-14 tahun. Angka ini bisa dipakai untuk memprediksi kemampuan para siswa sekolah dasar untuk belajar pada jenjang yang lebih lanjut.

Ironinya, angka melek huruf yang tinggi tersebut ternyata tidak koheren dengan kemampuan dan perilaku literasi masyarakat Indonesia. Studi yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU) Center for Public Policy and Social Reseach yang dirilis satu tahun sebelumnya yaitu tanggal 9 Maret 2016, menempatkan Indonesia pada peringkat ke 60 dari 61 negara dalam hal vitalitas budaya dan kemampuan literasi. Pemeringkatan “World’s Most Literate Nations” itu justru menempatkan 5 negara di Skandinavia yaitu berturut-turut Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark dan Swedia sebagai peringkat 5 besar negara dalam hal literasi.

Hasil yang serupa juga muncul pada skor PISA Indonesia pada tahun 2012 tentang aspek membaca yang hanya mendapatkan nilai rata-rata 396, jauh dibawah Singapura dan Vietnam.  Programme for International Student Assesment (PISA) adalah program dari OECD yang mengukur tidak hanya pengetahuan siswa usia 15-16 tahun pada bidang sains, membaca dan matematika, tapi juga mengukur tingkat kemampuan mereka melakukan sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki sebelumnya. Maka sebenarnya tingkat literasi siswa yang dievaluasi. Literasi menurut PISA adalah tingkat kemampuan siswa untuk memahami, menggunakan, merefleksikan pengetahuan dalam teks tertulis untuk mencapai tujuan tertentu, membangun pengetahuan dan potensi, serta berpartisipasi di dalam masyarakat. Oleh sebab itu, literasi bukan sekedar melek huruf, namun memahami apa yang dibaca, mampu menuliskan apa yang dipahami dan mampu memperbaiki masyarakat dengan apa yang ditulis.

Rendahnya angka literasi siswa Indonesia tersebut tidak boleh berhenti pada angka pesimistis yang menghentikan upaya perbaikan, karena hakikatnya potensi itu telah dimiliki bahkan oleh para siswa usia punca, yaitu siswa sekolah dasar kita. Data yang dirilis BPS memperlihatkan bahwa angka melek huruf para siswa punca usia 10-14 tahun menunjukkan angka nyaris sempurna dan yang terbaik dari kelompok usia yang lebih tua. Hal ini memperlihatkan bahwa hanya dibawah 0.1% siswa usia punca belum bisa membaca. Mungkin angka itu muncul karena hal-hal yang diluar kebiasaan, bukan karena faktor pendidikan. Dalam upaya eskalasi tingkat literasi, angka melek huruf ini bisa menjadi amunisi, yaitu modal dasar untuk melangkah menuju tahap berikutnya yaitu memahami, menulis dan berpartisipasi dalam perbaikan kehidupan bersama.

Harapan itu bertumpu pada dua lokus dimana para siswa usia punca itu belajar dan berkehidupan, yaitu di sekolah dan di rumah. Pada dua lokus tersebut, ada dua individu yang memegang peranan vital dalam hal eskalasi literasi para siswa usia punca, yaitu guru dan ibu. Studi yang dilakukan oleh Connor (2005), menemukan korelasi antara tingkat literasi anak yang duduk di first grade (yaitu usia 5-7) di Amerika Serikat, dengan beberapa faktor yaitu kapabilitas guru di sekolah dan pengaruh lain sebelum mereka masuk sekolah. Kapabilitas guru yang dimaksud meliputi tiga aspek dasar yaitu: kualifikasi guru untuk mengajar siswa tingkat dasar, lama tingkat pendidikan dan lama pengalaman menjadi guru. Aspek pertama dan kedua berada pada ranah potensi atau modal, sementara aspek terakhir dihasilkan dari sebuah proses dan pengalaman.

Latar belakang pendidikan guru, seperti kemampuan akademik secara umum, pengetahuan pada bidang studi yang diajarkan, pemahaman terhadap konsep belajar dan pembelajaran, serta kelayakan kemampuan guru yang distandarisasi melalui sertifikasi, adalah modal dasar bagi seorang guru untuk bisa mendidik dan menghasilkan siswa yang memiliki tingkat literasi tinggi. Apalagi jika didukung dengan pengalaman dalam kelas dan interaksinya dengan para siswa. Guru yang hangat dan responsif, mempunyai daya kontrol dan disiplin, dan banyak berinteraksi dengan siswa dalam kegiatan akademik, akan sangat membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan dan keterampilan membaca sekaligus memperkaya pemahaman kosakata. Guru dengan pengalaman pendidikan yang lebih lama biasanya juga akan lebih mudah berinteraksi dengan siswa secara responsif dan sensitif terhadap perilaku para siswa.

Pendekatan guru yang suportif terhadap siswa juga dinilai oleh laporan PISA terbaru pada tahun 2015 sebagai faktor yang menentukan pembentukan atmosfer pembelajaran di sekolah, selain tingkat kehadiran siswa di sekolah dan iklim kedispilinan. Berdasarkan hasil penilaian PISA, siswa yang tidak hadir di kelas, akan mempengaruhi siswa lain. Bahkan walaupun hanya sekedar keterlambatan hadir ke sekolah. Sedangkan iklim kedisiplinan dipengaruhi oleh seberapa kondusif proses belajar mengajar berlangsung, termasuk siswa yang tidak mendengarkan apa yang disampaikan guru, kegaduhan dan gangguan dalam kelas, dan waktu tunggu guru yang menunda pembelajaran dimulai menunggu siswa tenang terlebih dahulu. Atmosfer pembelajaran yang kondusif akan menjadi faktor penentu keberhasilan sekolah dalam proses pembelajaran, sementara proses pembelajaran yang bagus akan menopang interaksi dan kedekatan guru dan siswa. Faktor ini pula yang akan mendorong peningkatan literasi siswa.

Hal itu yang telah dibuktikan oleh Finlandia dalam 40 tahun terakhir, sehingga merebut peringkat pertama dalam hal negara dengan sistem pendidikan terbaik dan negara dengan tingkat literasi terbaik. Faktor modal dipenuhi dengan memperbaiki kualifikasi guru yang mengajar di tingkat dasar. Guru di Finlandia dipilih dari 10% lulusan terbaik yang lulus pendidikan S2 dari berbagai perguruan tinggi. Faktor proses dimulai dengan mematok rasio guru dan siswa pada angka yang kecil, sehingga banyak sekolah dibuat dengan jumlah siswa yang kecil, dalam rombongan belajar yang kecil sehingga guru mampu mengenal dan memahami setiap siswa secara individual. Guru sangat responsif dan suportif terhadap siswa sehingga setiap siswa mendapatkan perlakuan spesial dari gurunya. Setiap guru akan melakukan pendekatan khusus yang mungkin berbeda pada setiap siswa, dan setiap pendekatan itu dinilai tidak berhasil, maka guru tersebut akan berkonsultasi dengan kolega gurunya untuk mencoba dengan pendekatan yang lain pada siswa tersebut.

Guru di Finlandia akan mengajar di dalam kelas pada waktu yang lebih pendek dari umumnya pembelajaran di negara lain termasuk di Amerika Serikat. Guru meluangkan waktu lebih banyak untuk menelaah kurikulum dan mengevaluasi siswanya secara individual. Pada waktu yang sama, siswa banyak bermain di luar kelas, walaupun saat cuaca dingin yang membeku. Hampir tidak ada pekerjaan rumah, dan bahkan usia masuk sekolah dasar tidak dimulai hingga usia 7 tahun.

Ketidak tergesaan siswa di Finlandia untuk memasuki jenjang sekolah dasar ini rupanya juga mempengaruhi kesiapan siswa dalam usia pra-sekolah. Seorang ibu pekerja yang memiliki anak pra sekolah diberikan izin cuti selama 3 tahun untuk mendampingi anaknya, dan untuk usia anak 5 tahun akan diberikan kesempatan untuk dititipkan di pra-sekolah day care yang disubsidi oleh negara. Selain bermain, membaca dan menulis adalah aktivitas yang dilakukan oleh siswa pra-sekolah ini. Kebijakan ini selaras dengan studi Connor yang menemukan korelasi antara suasana pembelajaran di rumah dan pra-sekolah dengan kemampuan siswa usia 5-7 tahun dalam memahami huruf, kata dan kosakata. Semakin hangat suasana dalam rumah, ibu dan ayah yang suportif terhadap anak, dan pembelajaran membaca dan menulis sederhana di rumah dan pra-sekolah akan sangat menentukan eskalasi tingkat literasi pada siswa sekolah dasar. Yang mengejutkan, tingkat literasi tidak berkorelasi langsung dengan status sosioekonomi keluarga. Artinya, pendidikan ibu, lama interaksi antara ibu dan anak yang baru dilahirkan (bahkan sampai cuti 3 tahun di Finlandia) lebih berpengaruh terhadap kemampuan literasi anak usia pra-sekolah.

Oleh sebab itu, penguatan tingkat literasi pada siswa sekolah dasar akan bisa dicapai pada  dua tahap. Yaitu tahap pra-sekolah, dengan kapabilitas ibu dalam mengasuh dan mendidik anak usia dini, serta tahap sekolah, oleh kapabilitas guru yang memiliki kualifikasi dan pengalaman akademik yang baik. Kebijakan negara dalam mendukung peningkatan kualifikasi ibu dan guru itu yang diperlukan, baik dukungan kebijakan, finansial, fasilitas dan bimbingan teknis. Jika hal itu bisa dilaksanakan, pada eskalasi literasi pada siswa usia punca di jenjang sekolah dasar akan mudah dicapai. ***

Categories: Uncategorized Tags:

Dosen FTP Dipercaya Jadi Session Chair Konferensi Internasional Singapura

October 10th, 2017 No comments

https://prasetya.ub.ac.id/berita/Dosen-FTP-Dipercaya-Jadi-Session-Chair-Konferensi-Internasional-Singapura-20243-id.html

Yusuf Wibisono, STP. MSc., PhD, dosen program studi Teknologi Bioproses Fakultas Teknologi Pertanian  Universitas Brawijaya , diundang secara personal oleh Prof Ng How Yong dari National University of Singapore untuk menjadi Session Chair pada the 8th IWA Membrane Technology Conference and Exhibition for Water and Wastewater Treatment and Reuse.

Konferensi internasional yang diselenggarakan oleh International Water Association (IWA) berlangsung di Suntec Convention and Exhibition Centre selama lima hari (5/9-9/9/2017). Yusuf dipercaya untuk mengatur jalannya konferensi pada sesi Energy and Resource Recovery using Membrane Processes, bersama dengan Prof Jorg Drewes dari Technical University Munich, Jerman.

Selain bertugas menjadi session chair dalam konferensi yang dihadiri oleh lebih dari 400 delegasi seluruh dunia, Yusuf juga mempresentasikan secara oral hasil penelitiannya berjudul “Anti-algal surface modification for membrane-based microalgae harvesting“.

Penelitian ini sebelumnya didanai oleh Kurita Water Jepang dan AIT Thailand. Hasil penelitian ini juga menarik perhatian peneliti dari Tsinghua University, China untuk menjajaki kerjasama penelitian dimasa yang akan datang.

Pada akhir konferensi, Yusuf mengunjungi salah satu instalasi pengolahan air milik pemerintah Singapura yaitu Choa Chu Kang Waterworks yang memakai teknologi membran keramik terbesar didunia untuk pengolahan air permukaan menjadi air minum.[DSE/Humas UB]

 

Categories: Membrane, Water Tags: